Kaligrafi, Memang Selalu Ada Makna Lebih…

Mungkin hanya kaligrafi yang bisa menggabungkan dua aliran lukis berlainan kutub. Abstrak namun realis. Realis namun juga abstrak. Sehingga susah menyebutnya perpihak pada siapa.

Pada awalnya kaligrafi memang abstrak. Huruf-huruf yang disapukan bukanlah merupakan tiruan dari benda-benda yang ada di sekeliling. Namun karena imajinasi manusia selalu mengasosiasikan bentuk –mungkin untuk mempermudah– akhirnya huruf alif disebut seperti tiang listrik yang condong sedikit ke kiri (untuk gaya naskhi). Huruf ba ada yang menyebutnya seperti perahu yang tengah berlayar. Asosiasi seperti ini sering kita temukan dibuku kaidah untuk memperkenalkan istilah-istilah.
Anda sudah pernah mendengar ‘ain finjani atau ‘ain shadi? Dalam belajar kaligrafi ada beberapa istilah untuk menyebut bentuk huruf. Ain finjani merupakan huruf ain awal –disebut dalam gaya tsuluts– yang bersambung dengan huruf alif atau huruf ke atas. Finjani yang artinya cangkir (benar atau tidak ya?) itu merupakan pengasosiasian dengan bentuk cangkir yang cembung (ndemblek dalam bahasa Jawa). Sedangkan ‘ain shadi merupakan ‘ain awal biasa yang bersambung dengan huruf datar atau huruf menurun.
Namun kesemuanya itu hanya istilah. Istilah untuk menyebut keabstrakan menjadi realis.
Dan, kaligrafi yang abstrak kemudian seolah mencari bentuk untuk mendobrak “kesepiannya”. Bentuk-bentuk itu meruang, beraduk, bertumpuk-tumpuk, hingga tampak seperti rembulan yang muncul dibalik semburat awan. Atau, tiga ekor kuda liar yang seolah mencari jalan kebebasan.

Read more: http://sixronestudyo.blogspot.com/#ixzz1N0kpP8Ie

Iklan

Check out my Guestbook!

[slideguest id=2089670227127438785&w=550&h=425]

Al-Mizan….!!! Lumayan juga….

Assalamu’alaikum…..!!!!
Jumpa kembali dengan kita-kita Awak SixroneStudyo..
Yahhh…Bwat nyapa-napa apa salahnya yekaannnn….
Baru-baru ini khabarnya lagi-lagi awak eS-eS bawa pulang piala lagi tuh…Walau tak seberapa siiiiieee……
taapi juga cukup merasa “terpuaskan” karnanya…..
Hahahahahaaaaaa……..
Ya! Benar emang….Mizan Fair, Acara tahunan nampaknya.. Diadakan oleh LDF Al-Mizan miliknya FE Unsyiah….
Emang berat saat itu yaah….
Malam kaga tiduur….Persiapan ga ada… pluss dilanda peunyakett…!!!!
Haduuu…..!!!
Tapieee…. nga jadi masalah berat tuh……!!!!
Al’a stelah sedikit bersusah payah hari senin, 18042011 itu, sabtunya, pas pengumuman, Semua awak kita yang terjun bisa membawa pulang hadiah yang lumayan menggembirakan…!!! pluss pengalaman lagie….!!!!
Eh…! Jadi mana foto-fotonya…????
Sabaaar….
Ntaaaar bro yah….!!!
ta Loading dulu…..!!!!
Hahahahahaa…..
Dadaaaa…..
Salam’alaikuuum……….

Belajar Desain Grafis – Tutorial Photoshop Coreldraw Illustrator Freehand Paint Visio Flash Maya 3DS Max Fireworks AutoCAD Dreamweaver InDesign Cinema4D

Belajar Desain Grafis – Tutorial Photoshop Coreldraw Illustrator Freehand Paint Visio Flash Maya 3DS Max Fireworks AutoCAD Dreamweaver InDesign Cinema4D

Kaligrafi, Memang Selalu Ada Makna Lebih…

Mungkin hanya kaligrafi yang bisa menggabungkan dua aliran lukis berlainan kutub. Abstrak namun realis. Realis namun juga abstrak. Sehingga susah menyebutnya perpihak pada siapa.

Pada awalnya kaligrafi memang abstrak. Huruf-huruf yang disapukan bukanlah merupakan tiruan dari benda-benda yang ada di sekeliling. Namun karena imajinasi manusia selalu mengasosiasikan bentuk –mungkin untuk mempermudah– akhirnya huruf alif disebut seperti tiang listrik yang condong sedikit ke kiri (untuk gaya naskhi). Huruf ba ada yang menyebutnya seperti perahu yang tengah berlayar. Asosiasi seperti ini sering kita temukan dibuku kaidah untuk memperkenalkan istilah-istilah.
Anda sudah pernah mendengar ‘ain finjani atau ‘ain shadi? Dalam belajar kaligrafi ada beberapa istilah untuk menyebut bentuk huruf. Ain finjani merupakan huruf ain awal –disebut dalam gaya tsuluts– yang bersambung dengan huruf alif atau huruf ke atas. Finjani yang artinya cangkir (benar atau tidak ya?) itu merupakan pengasosiasian dengan bentuk cangkir yang cembung (ndemblek dalam bahasa Jawa). Sedangkan ‘ain shadi merupakan ‘ain awal biasa yang bersambung dengan huruf datar atau huruf menurun.
Namun kesemuanya itu hanya istilah. Istilah untuk menyebut keabstrakan menjadi realis.
Dan, kaligrafi yang abstrak kemudian seolah mencari bentuk untuk mendobrak “kesepiannya”. Bentuk-bentuk itu meruang, beraduk, bertumpuk-tumpuk, hingga tampak seperti rembulan yang muncul dibalik semburat awan. Atau, tiga ekor kuda liar yang seolah mencari jalan kebebasan.
Hukum Berpikir Positif  – Hukum Pygmalion
Pygmalion adalah seorang pemuda yang berbakat seni memahat. Ia sungguh piawai dalam memahat patung. Karya ukiran tangannya sungguh bagus. Tetapi bukan kecakapannya itu menjadikan ia dikenal dan disenangi teman dan tetangganya.
Pygmalion dikenal sebagai orang yang suka berpikiran positif. Ia memandang segala sesuatu dari sudut yang baik.
* Apabila lapangan di tengah kota becek, orang-orang mengomel. Tetapi Pygmalion berkata, “Untunglah, lapangan yang lain tidak sebecek ini.”
* Ketika ada seorang pembeli patung ngotot menawar-nawar harga, kawan-kawan Pygmalion berbisik, “Kikir betul orang itu.” Tetapi Pygmalion berkata, “Mungkin orang itu perlu mengeluarkan uang untuk urusan lain yang lebih perlu”.
* Ketika anak-anak mencuri apel di kebunnya, Pygmalion tidak mengumpat. Ia malah merasa iba, “Kasihan, anak-anak itu kurang mendapat pendidikan dan makanan yang cukup di rumahnya.”
Itulah pola pandang Pygmalion. Ia tidak melihat suatu keadaan dari segi buruk, melainkan justru dari segi baik. Ia tidak pernah berpikir buruk tentang orang lain; sebaliknya, ia mencoba membayangkan hal-hal baik dibalik perbuatan buruk orang lain.
Pada suatu hari Pygmalion mengukir sebuah patung wanita dari kayu yang sangat halus. Patung itu berukuran manusia sungguhan. Ketika sudah rampung, patung itu tampak seperti manusia betul. Wajah patung itu tersenyum manis menawan, tubuhnya elok menarik. Kawan-kawan Pygmalion berkata, “Ah, sebagus-bagusnya patung, itu cuma patung, bukan isterimu.” Tetapi Pygmalion memperlakukan patung itu sebagai manusia betul.
Berkali-kali patung itu ditatapnya dan dielusnya. Para dewa yang ada di Gunung Olympus memperhatikan dan menghargai sikap Pygmalion, lalu mereka memutuskan untuk memberi anugerah kepada Pygmalion, yaitu mengubah patung itu menjadi manusia betul. Begitulah, Pygmalion hidup berbahagia dengan isterinya itu yang konon adalah wanita tercantik di seluruh negeri Yunani.
Nama Pygmalion dikenang hingga kini untuk mengambarkan dampak pola berpikir yang positif. Kalau kita berpikir positif tentang suatu keadaan atau seseorang, seringkali hasilnya betul-betul menjadi positif.
Misalnya,
* Jika kita bersikap ramah terhadap seseorang, maka orang itupun akan menjadi ramah terhadap kita.
* Jika kita memperlakukan anak kita sebagai anak yang cerdas, akhirnya dia betul-betul menjadi cerdas.
* Jika kita yakin bahwa upaya kita akan berhasil, besar sekali kemungkinan upaya dapat merupakan separuh keberhasilan.
Dampak pola berpikir positif itu disebut dampak Pygmalion.
Pikiran kita memang seringkali mempunyai dampak fulfilling prophecy atau ramalan tergenapi, baik positif maupun negatif.
Kalau kita menganggap tetangga kita judes sehingga kita tidak mau bergaul dengan dia, maka akhirnya dia betul-betul menjadi judes.
* Kalau kita mencurigai dan menganggap anak kita tidak jujur,akhirnya ia betul-betul menjadi tidak jujur.
* Kalau kita sudah putus asa dan merasa tidak sanggup pada awal suatu usaha, besar sekali kemungkinannya kita betul-betul akan gagal.
Pola pikir Pygmalion adalah berpikir, menduga dan berharap hanya yang baik tentang suatu keadaan atau seseorang. Bayangkan, bagaimana besar dampaknya bila kita berpola pikir positif seperti itu. Kita tidak akan
berprasangka buruk tentang orang lain.
Kita tidak menggunjingkan desas-desus yang jelek tentang orang lain. Kita tidak menduga-duga yang jahat tentang orang lain.
Kalau kita berpikir buruk tentang orang lain, selalu ada saja bahan untuk menduga hal-hal yang buruk. Jika ada seorang kawan memberi hadiah kepada kita, jelas itu adalah perbuatan baik. Tetapi jika kita berpikir
buruk,kita akan menjadi curiga, “Barangkali ia sedang mencoba membujuk,” atau kita mengomel, “Ah, hadiahnya cuma barang murah.” Yang rugi dari pola pikir seperti itu adalah diri kita sendiri. Kita menjadi mudah
curiga. Kita menjadi tidak bahagia. Sebaliknya, kalau kita berpikir positif,kita akan menikmati hadiah itu dengan rasa gembira dan syukur, “Ia begitu murah hati. Walaupun ia sibuk, ia ingat untuk memberi kepada kita.”
Warna hidup memang tergantung dari warna kaca mata yang kita pakai.
* Kalau kita memakai kaca mata kelabu, segala sesuatu akan tampak kelabu. Hidup menjadi kelabu dan suram. Tetapi kalau kita memakai kaca mata yang terang, segala sesuatu akan tampak cerah. Kaca mata yang berprasangka atau benci akan menjadikan hidup kita penuh rasa curiga dan dendam. Tetapi kaca mata yang damai akan menjadikan hidup kita damai.
Hidup akan menjadi baik kalau kita memandangnya dari segi yang baik. Berpikir baik tentang diri sendiri. Berpikir baik tentang orang lain. Berpikir baik tentang keadaan. Berpikir baik tentang Tuhan.
Dampak berpikir baik seperti itu akan kita rasakan. Keluarga menjadi hangat. Kawan menjadi bisa dipercaya. Tetangga menjadi akrab. Pekerjaan menjadi menyenangkan. Dunia menjadi ramah. Hidup menjadi indah. Seperti Pygmalion, begitulah.>>

Awak SixroneStudyo Terjun ke Arena

Wah-wah-waaahhh…
Bukannya bangga, tapi kami merasa bahagia bisa mengikutsertakan diri kami dalan ajang adu bakat dan kreatifitas tentunya,,,
24 Feb 2011, di sebuah univrsity besar di Aceh. Awalnya sih ngikut bwat suka-suka n refreshing ato dikenal dengan ‘cuci mata’ disitu…
Tapi apa boleh buat..!! ternyata cukup tujuh sertifikat serta piagam bisa kami kumpulkan dari situ….
yaaah lumayan laah buat koleksi.
Tapi satu yang sangat berharga, ilmu yang tak bernilai harganya bisa kami raih disitu…
Pengalaman sebagai guru terbesar takkan pernah kami lewatkan untuk meningkatkan mutu kami.
Kedepan Insya Allah kami akan terus menjadi lebih baik..!!! Do’akan yaa Sobatt…